Dulu tak Dilirik Kini Jadi Kerajinan Bernilai Jual, Maratua Angkat Kreativitas Perajin Kulit Kerang

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kulit kerang yang sebelumnya kurang dilirik kini diolah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual. Kreativitas tersebut menjadi salah satu potensi lokal yang diperkenalkan Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, dalam ajang Berau Expo 2026, sekaligus menunjukkan peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi pesisir.

 

Melalui stan pameran, Kecamatan Maratua memperkenalkan beragam keunggulan daerah, mulai dari sektor kelautan dan pariwisata hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya.

 

Kerajinan berbahan kulit kerang menjadi salah satu produk yang ditampilkan untuk memperlihatkan bagaimana kreativitas masyarakat dapat memberikan nilai tambah pada potensi lokal.

 

Camat Maratua, Ashari, mengatakan keikutsertaan dalam Berau Expo 2026 berfokus pada pengenalan potensi laut dan pariwisata. Hal itu sejalan dengan arahan Bupati Berau Sri Juniarsih Mas yang menempatkan Maratua sebagai salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Berau.

 

“Tema yang kita tampilkan berkaitan dengan laut dan pariwisata yang tengah kita angkat. Karena itu, kita tampilkan keunggulan Maratua, baik dari segi produk maupun kerajinan,” ujar Ashari.

 

Menurutnya, Maratua memiliki potensi yang dapat diperkenalkan dari berbagai sisi. Selain keindahan alam yang menjadi daya tarik wisata bahari, kreativitas masyarakat dalam menghasilkan produk UMKM dan kerajinan juga perlu mendapat ruang promosi.

 

“Kita ingin memperkenalkan kepada wisatawan bahwa Maratua bukan hanya sebagai pulau terluar, tetapi juga memiliki keindahan alam dan potensi ekonomi yang kuat,” katanya.

 

Salah satu produk yang diperkenalkan melalui stan Kecamatan Maratua ialah kerajinan berbahan cangkang atau kulit kerang. Bahan tersebut diolah menjadi berbagai bentuk produk, seperti gantungan kunci dan wadah khusus untuk cendera mata.

 

Pengolahan ini menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal melalui kreativitas masyarakat. Bahan yang sebelumnya kurang dilirik dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual melalui proses pengerjaan serta pengemasan yang lebih baik.

 

“Dulunya bahan ini tidak ada harganya dan tidak dilirik orang. Sekarang kita buat menjadi berbagai bentuk, seperti gantungan kunci hingga wadah khusus,” ungkap Ashari.

 

Kerajinan tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk pendukung pariwisata. Wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat membawa pulang cendera mata yang mengingatkan mereka pada tempat yang dikunjungi.

 

Dalam konteks Maratua, produk kerajinan berbahan kulit kerang dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan identitas lokal melalui hasil kreativitas masyarakat. Namun, agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, produk kerajinan memerlukan pengembangan secara berkelanjutan.

 

Selain mengembangkan bentuk kerajinan, peningkatan kualitas kemasan turut menjadi perhatian. Kemasan yang lebih menarik dapat memperkuat tampilan produk dan memberikan kesan yang lebih baik kepada calon pembeli.

 

Ashari mengatakan, perubahan kemasan mulai memberikan dampak terhadap nilai jual produk kerajinan dan kondisi para perajin lokal.

“Alhamdulillah, sekarang nilainya sudah mulai meningkat dan nasib para perajin turut berubah. Yang dulunya bentuk kemasannya kurang bagus, sekarang diproduksi lebih menarik sehingga nilai jualnya ikut naik,” katanya.  (sep/FN)